Aku Kembali, Menulis Untuk?

Photo by Liam Anderson on Pexels.com

Aku bukan seorang penulis. Namun menulis adalah bagian dari keseharianku. Sehingga, antara aku dan menulis tidak dapat terpisahkan. Artinya?

.... Tanpa menulis, tidak ada penghasilanku. Hohoo. Tanpa menulis, tidak ada ekspresiku. Huhu. Tanpa menulis, aku tidak bisa bergerak. Hehe. Tanpa menulis, aku bisa saja sudah mati. Hihi. Tanpa menulis, tentu kita tidak pernah bersapa. Hahaa. 

Meski melalui rerangkai kata, aku dan engkau, kita, akhirnya bertukar bahasa. Walau belum berjumpa, setidaknya, ku bisa tahu bagaimana ku merasakan tulusmu dalam menulis. Maka, tetaplah menulis, teman. Apalagi ketika engkau tidak bisa berkata-kata atas apa yang engkau rasa.

Engkau, aku, kita, sama. Kita tidak berbeda, walau pun usia kita tidak setara. Aku, engkau, yang masih memiliki kesempatan untuk menulis dan membaca, mari menata segala yang ada, dengan sesungguh jiwa. Karena ternyata, yang kita alami, dari dulu, sekarang, hingga di masa depan, sudah tertulis sungguh rapi di dalam catatan-Nya. Jadi, apakah pentingnya menulis bagimu?

Bagiku, menulis adalah sebuah sarana. Menulis adalah jalan. Menulis adalah pencerah pikiran, saat tulisan tersebut kembali ku baca. Apalagi membaca catatan harian, lama. Haiiii. πŸ˜€

Aku tidak malu, sungkan, apalagi segan, ketika ku kembali pada perjalanan pikiran tahun-tahun lalu yang ku telusuri melalui tulisan. Hingga akhirnya ku terpikir, semua yang ku tuliskan, adalah sebagai penghargaan dariku untuk diriku khususnya. Sebab ku telah berani merangkainya menjadi sesuatu yang ku sebut ‘senyuman’.

Aiiiih, am I sure?

Yaa, yakin bangett. Ckck.

Meski tidak semua tersenyum padaku saat membacanya, namun bagiku, tetesan airmata yang kembali bermunculan saat membaca tulisan menyedihkan, adalah hiburanku. Bagiku, semua terasa lucu. Sebab ia telah berlalu. Tapi aku, menjalaninya sesedih itu, dulu. Huhuhuuu.

Lain halnya dengan tulisan yang mensenyumkan saat ku baca, kemudian. Senyumanku semakin indah mengembang-ngembang, menelusuri seluruh perjalanan waktu yang telah ku kemas menjadi tulisan.

Aku kembali berbunga-bunga, mengingat indahnya masa jatuh cinta pada seseorang, tapi aku tidak sanggup menyampaikan pada yang bersangkutan, kecuali merangkai tulisan tentang perasaanku padanya. Tulisan tersirat dan maknanya hanya aku yang tahu maknanya. Kecuali ada yang menerka-nerka, terserah padanya. Intinya adalah, aku berusaha sungguh kuat menyembunyikan perasaan dan membunyikannya melalui rerangkai tulisan. Adakah engkau salah seorang yang rupa-rupanya dapat menebak isi pikiranku, teman? Applause, I am proud of you. Atau bisa jadi, engkau adalah salah seorang yang ku cintai? Hihii.

Aku kembali menggerakkan kaki-kakiku yang menjuntai ringan kini, ketika ku terkenang pada langkah-langkahnya saat ia berada di jalan-jalan, dalam kondisi berpanasan, sampai keringatan, demi mencapai sebuah lokasi tujuan, ketika ku ingin menghabiskan waktu liburan di luar ruangan.

Aku kembali menghirup udara penuh kesegaran, seraya menghembuskannya pelan, seraya mengenang masa-masa sendirian tanpa berteman. Ketika itu, ku benar-benar dalam sunyinya keadaan, ini hanya pikiranku saja, memang. Seraya mengurai impian demi impian, misalnya pertemuan dengan ‘sang belahan jiwa’ yang ketika itu hanya dapat ku bayangkan.

Aku kembali mensenyumi sinaran mentari yang hari ini terik sungguhan, seraya mengenang masa-masa merangkai senyuman di bawah hujan. Masa yang ku jadikan sebagai afirmasi saja, bagaimana rasanya, ketika keadaan sekitarku tidak lagi hujan? Yang ku maksud adalah hujan airmata, atas pedihnya hidup yang ku rasakan.

Aku kembali menggerakkan jemari, dengan kecepatan tertentu, seraya mengingat segenap impian. Aku pernah mengimpi masih dapat melakukannya, sekalipun tidak ada sarana dan prasarana yang ku miliki. Namun ku bertekad, masih bisa melakukan aktivitas menulis.

Aku kembali saat ini, untuk bereuni denganmu teman, bersama tulisan saat ini. Karena melakukannya, bagiku merupakan sebuah kesenangan yang tidak terkatakan. Cukup ku tuliskan, lalu membuatku bahagiaaaaa sungguhan. Ini beneran dan aku tidak sedang mencari alasan, bagaimana cara menulis lagi. Benar, menulis bagiku adalah sebuah kebutuhan.

Tanpa menulis dan merutinkannya hingga saat ini, aku tidak dapat membayangkan, bagaimana kondisi perekonomian dalam kehidupan yang ku jalani. Dengan menulis dan terus merutinkan, aku memperoleh kebaikan demi kebaikan berupa imbalan. Apakah materi dan atau non materi. Maka, ku masih ingin dan mau terus menulis, sampai ku tidak sanggup menggerakkan raga ini, lagi.

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai