Sebuah Potret Kita

Sebuah potret ku pandangi sekali lagi. Potret berwarna hitam putih.

“Potret ini bergambarkan diri kita. Warnanya menceritakan tentang kondisi kehidupan kita. Hidup yang tidak selalu berwarna warni, namun terkadang warnanya hitam dan putih saja, ya,” ku bicara dengan diriku sendiri dan berniat mengajakmu bicara.

“Yan, hitam dan putih juga warna, bukan?,” engkau bersuara dan menancapkan tatap pada mataku yang seketika berkedip.

“Hap!,” ku terkesiap.

Dan detik-detik berikutnya… “Tuiing, ide-ide pun bermunculan di ruang kepalaku. Aku teringat untuk merangkai senyuman tentang ini. Tentang kehidupan kita yang berwarna. Walaupun warnanya hitam dan putih, mari kita buat berpelangi, yuuuk 🙂 Berpelangi di dalam impian…, ” ku merekatkan kedua kelopak mataku rapat-rapat sambil tersenyum malu.

“Hu um. Yuk, makanya, bersyukurlah selalu dengan warna yang ada, tetap bahagia dan jangan lupa berbagi, yaa,” engkau mengingatkanku seraya bangkit dari duduk dan lanjut melangkah di sepanjang pematang sawah.

Aku bergerak, bangkit dan melangkah di belakangmu. Aku ikut-ikut ke mana engkau pergi, seraya menyempatkan mata-mata ini berkeliling tatap. Akhirnya, terbuka juga jalan pikiran, tepat setelah ku membuka suara. Padahal sebelumnya kita diam-diaman dan ku tidak menyangka, engkau akan memunculkan suara untukku. Suaramu yang membuatku bersuara lagi, hingga saat ini. Lantas ku berpikir inilah indahnya berbagi, meski berbagi suara. Suara yang memang sangat jarang ku keluarkan, namun sekali-sekalinya bersuara, aku bisa bersuara lebih banyak jadinya. Apa sebab?

Tepat, saat ada yang menimpali atau mengajakku mengeluarkan suara, aku bisa saja tidak henti. Bahkan, aku bisa bersuara lebih banyak lagi dan lagi. Sehingga membuatku menjadi sangat banyak bicara, jadinya. Apakah pembicaraan masih dalam topik pertama atau merembes ke topik-topik berikutnya? Bisa jadi, merembes ke topik-topik berbeda, tentu saja. Nah, bagaimana akibatnya?

Saat kita banyak bicara, akan banyak suara yang terucapkan, akan banyak pula yang terbahas dan akan banyak juga yang terkupas. Makanya, sedapat mungkin, aku irit bicara. Alasannya adalah, untuk menangkis serangan banyak membicarakan hal-hal tidak perlu. Supaya waktu yang semestinya digunakan untuk melakukan aktivitas penting, tidak tertunda oleh bicara. Lalu, bagaimana kalau ada yang berkunjung menemuimu dan tujuannya untuk ‘maota-ota; ngobrol-ngobrol) saja?

Aku pun menyesuaikan. Ya. Tidak hanya diam seribu bahasa, namun sedikitnya ku berekspresi untuk menanggapi. Setidaknya ku tersenyum-senyum manis dan sesekali mengeluarkan suara juga. Karena sebuah potret aja bisa bicara, masa iya aku engga? Tapi, kalau kelamaan, aku bisa tidak nyaman. Sebab, ada banyak yang perlu ku kerjakan lagi, selain maota-ota tidak jelas.

“Nah, dalam kesempatan terbaik mengeluarkan suara untuk berbicara, bicaralah yang terbaik,” begini nasihatku untuk diriku terutama.

Semoga hal-hal bermakna saja yang kita bicarakan. Mudah-mudahan yang berfaedah saja yang kita ungkapkan melalui suara ini dan tidak ada yang kita sesali saat mulut ini berucap.

“Ingatlah, mulutmu harimaumu yang akan mencengkeram kepalamu,” sebuah pepatah menari-nari dalam ruang kepalaku.

Pepatah yang mengingatkan kita sebelum bercuap-cuap. Sebab dari suara yang kita alirkan, dapat berakibat pada diri kita juga. Apabila kita berucap penuh kebaikan, maka kebaikan itu kembali kepada diri kita juga. Namun bila ucapan kita menyakiti hati dan perasaan orang lain, juga kembali pada kita. Maka, jagalah lisan dengan sebaik-baiknya, supaya dengan lisan kita dapat memberikan kebaikan.

“Berjalan pelihara kaki, bicara pelihara lidah,” nasihat ini pun erat kaitannya dengan ucapan.

Dalam bicara, kita mesti hati-hati, supaya lidah kita tidak asal berucap. Ingatlah, bahwa kata-kata yang kita keluarkan melalui lisan ini, tidak dapat kita tarik kembali. Semoga, kita menjadi orang-orang yang senantiasa ingat dan mengingatkan tentang hal ini.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia bertutur kata yang baik atau lebih baik diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Thank you for speaking with me.” bisikku di dalam hati. Bisikkan yang tidak dapat engkau dengarkan, namun ku memperhati engkau tersenyum sepanjang kebersamaan kita. Termasuk saat ini. Senyuman indahmu masih terbaca olehku, melalui potret kita. Senyuman tanda suka, senang, dan aku juga merasakannya.[]

🙂 🙂 🙂

Iklan