Nak…! Dengarkanlah

Jambu Madu. Buah terngidamku selama kehamilan trimester pertama

Kelak engkau bertanya, “Bunda, selama masa mengandungku, apakah Bunda mengidamkan sesuatu yang lucu untukku?”

Maka, jawaban Bunda adalah, “Iya, ada Nak…, yaitu jambu madu.”

***

Huuup! Ternyata aku pernah ngidam juga. Merasakan sesuatu kepengen yang sangat-sangat mau dan harus bertemu. Sayangnya, pada saat itu tidak bisa langsung bertemu. Meski ku terus mencari dan mencari. Hasilnya masih nihil, belum ketemu juga. Sampai tiba masanya, sesuatu yang sangat ingin mau ku itu, berada di genggaman. Sungguh senangnyaaaa dan ku pikir, ini ngidam yang lucu. Karena membuatku tersenyum malu.πŸ˜‡

Yuhuuu. Demi engkau yang tercinta, ku pernah menyempatkan beli ini jambu madu yang mahalnya tidak terkira. Bayangkan, dengan harga sekilonya lima puluh ribu, setelah bertemu? Aku beli juga, karena memang dia yang ku tunggu. Lagi pula, keberadaannya pun tidak selalu. Nah, sekali bertemu, rasanya mauku tercapai sudah. Alhamdulillah. Semoga engkau tersayang sedang senang, saat ku menikmati manisnya jambu madu.

Sure, keberadaan ini jambu termasuk langka, menurutku. Walau nyatanya, di rumah tetanggaku ada pohonnya. Akan tetapi, pohon tersebut sedang tidak berbuah ketika ku sangat ingin menyantapnya.

Nah, beberapa waktu terakhir, pohon jambu madu di rumah tetanggaku berbunga lebat. Kini buahnya sudah mulai besar. Lalu aku, tersenyum senang. Karena sekarang hampir tiap hari makan jambu madu ini. Hihii. 😁

Tetanggaku, orangnya baik. Jadi aku merasa beruntung berada di dekat mereka. Kebaikan tetanggaku akan selalu ku ingat. Apalagi saat jambu madu tersebut berbuah lebat. Ku doakan, semoga buahnya semakin lebat dan limpah lebatnya sampai pada selainku juga. Dengan demikian, keberadaannya bermanfaat.

Bertetangga, memang harus selalu begitu. Kita mesti memberi manfaat bagi sekitar. Apakah dengan kebaikan yang kita sadari, atau kebaikan yang berupa jariyah tidak terlihat. Seperti pohon yang sebelumnya kita tanam, lalu berbuah. Buahnya, bisa dinikmati oleh siapapun yang memetiknya.

“Nak… Kelak engkau terlahir ke dunia ini. Apakah seorang laki-laki atau perempuan. Menjadilah insan beriman yang bermanfaat bagi sekitar. Apapun yang engkau lakukan, meski menanam sebibit tanaman, mulailah. Mulailah sejak engkau mulai bisa bertanam. Karena, buahnya dapat menjadi amal kebaikan untukmu, sekalipun kelak engkau tidak dapat menikmati hasilnya. Namun… Ingat! Anak-anakmu, anak-anak tetangga, cucu-cucumu, akan teringat dan mendoakan kebaikan untukmu yang menanamnya”, ini pesan Bunda untukmu. Pesan yang Bunda tulis sambil mengelus perut, dan didalamnya ada engkau. Semoga pesan ini sampai padamu, wahai permata hatiku.

β€πŸ’—πŸ’–πŸ’—β€ With Love β€πŸ’—πŸ’–πŸ’—β€

Oiya, saat pesan ini baru selesai Bunda rangkai, engkau belum bisa membaca.

Yuuk, mari, Bunda bacakan untukmu yaa. (Dugdug, di dalam perutku pun seperti ada respon dengan pergerakanmu, Nak. Masya Allah, engkau mengerti Nak. Indahnyaaa.

πŸ˜ŠπŸ€—πŸ˜Š

Diterbitkan oleh My Surya

MENULIS : MENU(tup) LIS(an)

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: