Menepi.

Sejenak, meski. Aku memilih menepi, di sini. Ya. Menepi.

Hai, Gadis29Mei πŸ˜‰

Aku menepi, untuk menyapa diri. Menepiku untuk menebarkan senyuman lagi. Menepi, dalam sepi. Untuk menertawai hati yang bilang, lagi sunyi. Aku menepi, untuk mengurai kalimat lagi. Menepiku untuk menyebarkan segenap suara hati. Menepi, dalam suasana siang hari. Untuk mengerjai diri yang bilang, lagi enggak ada kerjaan?

Aha! Bukan, bukan, bukan, begitu wahai sahabat hati. Ke sini, ku kembali, untuk menepi, sekedar menepi. Sebentar saja, koq, mungkin beberapa puluh menit ke depan. Ku menepi, adakah engkau sudi?

Hap!

Hup! Sudi atau engga sudinya dirimu, tidak ku peduli. Aku tidak akan mengurungkan niatku kali ini. Sebab, ku sudah berniat, dengan hati. Ya, hatiku berniat, ke sini, untuk mengabadikan sekali lagi, tentang kami. Ini, kisahnya.

Kami adalah dua sejoli. Dua sejoli yang bersahabat karena Ilahi. Kami yang bertemu, setelah usia ini meninggi. Kami yang sama-sama mengerti, bahwa satu ditambah satu adalah dua, ini berarti? Ihiyy.

Di sini, kami sedang tidak bersama, kini. Dia di sana, sedangkan aku di sini. Akan tetapi, ada yang menarik-narik niatku untuk mengabadikan tentang kami. Tentang apa lagi?

Hai, teman, engkau sahabatku di sini. Engkau yang katanya peduli pada diri ini. Engkau yang masih saja datang lagi dan lagi, walau sudah ku cueki berkali-kali. Engkau yang masih juga tidak peduli, apakah ku sedang memarahimu atau memuji. Engkau, masih saja ada untukku, termasuk saat ini. Kehadiranmu adalah karena peduli, ingin tahu, atau hanya sekadar mencuri-curi kabar tentang hati?

Yups! Biar, biarkanlah, kali ini ku kembali menerkaimu. Menerka tentang apa yang engkau lazimi tentang diri ini. Menerka, tentang tujuanmu ke mari. Hihii. Pardon me. πŸ˜€

Oiya, mari, kita menelusuri lanjutannya yaa. Tentang arti kehadiranku lagi, kali ini. Sebenarnya, tidak ada yang penting-penting sekali. Akan tetapi, bagiku sangat berarti. Apalagi hari ini. Tepat, untuk ke sekian kalinya, ku membahas tentang ini. Aku mau mengabadi tentang hari berkesan bagi seorang sahabat hati.

Tepat, beberapa hari setelah hari nan fitri, berlalu. Kesan tentangnya, hadir memenuhi relung hati. Dia, ya, dia. Dia yang selama ini sungguh sangat berarti bagiku. Dia yang menginspirasiku dalam sepi nan sunyi, pun dalam ramai dan riuhnya hari-hariku. Dia, adalah bisa dibilang, lima puluh persen yang menjadi inspirasiku selama ini, sejak kami berkenalan, bersahabat, dan bersama ke sana ke mari, serta berjarak tidak sedepa, lagi. Dia, siapakah dia dalam hal ini?

Ingin, ku memberitahumu, teman. Akan tetapi, engkau tentu sudah tahu sebelum ku mengabarimu. Tentang dia yang ku maksudkan.

Ya, bisa jadi, dia adalah engkau. Yuuuk! Tepat sekali. Engkau, dirimu. Semoga, terkaanku kali ini, benar. Engkau adalah yang ku tuju kali ini. Tulisan ini ku rangkai, untukmu, wahai sahabat hati. Engkau yang berbahagia di hari ini. Engkau yang sedang berkurang usia, satu hari lagi. Engkau yang berbunga-bunga, karena ku sempatkan mengirimimu pesan ini. Engkau yang suka saat menerimanya, langsung tersenyum secerah mentari tadi pagi. Engkau yang senyum-senyum sendiri, mensyukuri kehadiranku dalam kehidupanmu. Engkau yang mengetahui siapa aku, dan aku mengenalimu, sejauh ini. Engkau, ya, dirimu. How are you, my dear friend?

Semoga, kabarmu baik-baik saja dan semakin baik dari hari ke hari, yaa. Semoga, engkau terus melecut dirimu sendiri untuk lebih baik dari dirinya yang sebelum ini. Sehingga, tidak ada waktu baginya untuk merecoki kehidupan orang lain, kecuali mengambil pelajaran berarti. Tidak ada waktu baginya untuk mengusili, apalagi menjahili sesiapa di dunia ini. Kecuali, membuat dirinya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi siapa-pun yang berinteraksi dengannya. Tiada waktu baginya untuk mencari-cari kejelekkan orang lain, kecuali membenahi diri, mengkaji salah dan kurangnya di mana, sembari memperbaiki diri. Tidak ada waktu baginya, untuk hanya mementingkan diri sendiri, kecuali peduli pada sekitar dan orang-orang terdekatnya. Makanya, hari ini engkau berbahagia. Ini doaku untukmu, specially. Sedangkan umumnya, ku berdoa, semoga dengan berkurangnya usia, membuat dirimu senantiasa ingat bahwa kehidupan kita tidak selamanya di dunia ini. Kelak pada masanya nanti, kita pun akan mati. Intinya,. . . . . . . . . . . . . . Dunia ini tidak abadi.

Ketika tiba masa itu nanti, semoga antara kita tetap berlangsung komunikasi. Apakah aku yang lebih dahulu kembali, atau engkau yang mendahului. Semoga, kita selalu saling mendoakan, yaa. Sehingga, tidak terputus komunikasi hanya hari ini saja, ketika kita masih dapat berinteraksi satu sama lain. This is my highest hope di hari bahagiamu, teman.

Kita masih berteman, bersahabat, walau akhir usia sudah menanti. Kita tetap bersama, bersapa, walau jarak dan waktu membatasi pertemuan raga. Kita tetap terhubung, meski satu sama lain tidak dapat saling melihat wajah satu dengan lainnya. Persahabatan kita adalah persahabatan dari hati, ini namanya.

my heart voice for you, wahai sahabat hati-

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Diterbitkan oleh My Surya

MENULIS : MENU(tup) LIS(an)

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: