Seperti Awan yang Tinggi

Kita adalah satu, walau jauh berjarak tetap bertemu dalam rindu. Seperti awan dan langit itu. I miss you.

Aku bertanya dan memikir, ada apa di ujung sana?

Ku memandang awan putih dan langit biru, serta pucuk pohon kelapa

Teman, bagaimana kabarnya hari ini? Sehat? Baik? Semangat? Ceria? Tetap bahagia? Tersenyum? Atau, engkau dalam kondisi terpelik dalam hidupmu? Bagaimana engkau menghadapinya? Apakah engkau diam berpangku tangan atau melakukan usaha? Apakah engkau menikmati atau merutuki keadaan yang tidak engkau suka? Apakah engkau masih ada?

"Jarak tidak abadi, akan ada pertemuan"

Halo, senang bertemu lagi teman, di dunia maya. Pertemuan kita tanpa sua sesungguhnya. Akan tetapi, perjalanan jemari mengantarkan tatapan kita berjumpa juga. Hingga akhirnya, engkau dapat mengetahui keadaanku terbaru, melalui kisah dan rerangkai kata yang ku susun sedemikian rupa. Begitu pula denganmu, engkau yang menjadi bagian dari dunia ini. Engkau yang berbagi cerah pada dunia, lalu aku menemukanmu. Sungguh senangnya.

Menyadari dan menjalani kenyataan dengan sungguh-sungguh adalah salah satu cara untuk berteguh

Iya. Sure. Aku senang tidak terkira, mendapati kenyataan seperti ini. Kenyataan yang membuatku ingin tetap tersenyum, lagi dan lagi. Lalu, membaginya padamu, walaupun engkau tidak dapat memperhati indah senyuman ini.

“Senyuman yang indah adalah hiasan pada wajah. Memperlihatkan keindahan tampilannya adalah ibadah. Tersenyumlah, karena senyuman itu ibadah.”

Aku masih mau tersenyum, walau engkau tidak tahu pasti bagaimana kondisi di dalam diri ini. Aku masih mau tersenyum, melalui ini, dengan cara begini. Sehingga, dengan demikian, aku dan engkau tetap terkoneksi, sampai nanti.

Yuups! Ini yang ku maksud. Intinya adalah, kita tetap saling berkomunikasi. Berkomunikasi untuk saling berbagi informasi. Apakah engkau mengetahui keadaan yang ku bagi saat ini juga, atau kelak di hari nanti, setelah ku terlupa dengan semua. Lantas engkau memikir, ooo, ternyata begini dia-ya. Hap!

Bergerak adalah berupaya. Upaya adalah awal keberhasilan. Tidak ada keberhasilan yang terjadi tanpa upaya. Maka, bergeraklah, meski selangkah. Konsistenlah.

Ingat, teman. Tepat setelah rerangkai kalimat ini jadi, aku sedang bergerak, melangkahkan kaki, bergerak, menuju suasana yang berbeda. Iyah. Aku terus berjalan, melangkahkan jemari, sekalipun ragaku tidak bergerak ke mana-mana.

Aku memikir, melangkahkan pikir, untuk selanjutnya tersenyum pada keadaan yang ku alami. Sebab, terkadang, ia berbeda dengan yang ku ingini. Aku maunya ke sana, ternyata aku ada di sini. Aku maunya begini, ternyata begitu yang ku alami.

Qadarullah.

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Q.S Al-Baqarah [2]: 286)

Kepada-Nya kita kembali. Atas segala keadaan yang kita sukai atau tidak sukai. Sebab, keadaan tersebut adalah sesuai dengan kesanggupan kita, ya. Begini. Mengingat-Nya, maka kita mengalami ketenteraman hati. Tenteram, tenang, adem, sejuk, damai, seperti berlindung di bawah naungan awan, rasanya. Seperti berteduh di bawah mendung saat mentari terik sekali. Rasanya, sungguh sejuk.

Jadi, tentang hal ini, ku lebih sering teringatkan lagi, mengingatkan diri, untuk kembali, kembali, kembali, pada diri yang akan kembali. Ya, diri ini tidak selamanya di sini. Diri ini tidak selalu begini. Ia dan keadaannya, akan berubah seiring hari. Ia ada keadaannya ada berubah, seiring masa. Dan, kesanggupan diri ini tidak menandingi kekuatan-Nya. Bersama-Nya di dalam hati, sungguh menyenangkan. Terlebih dalam kondisi dunia akhir-akhir ini. Mengembalikan ingatan kepada-Nya lebih sering adalah solusi. Hi, me.

Iya, keadaan terkini mengingatkanku pada kondisi yang ku alami dulu. Dulu, ketika ku pernah mengalami frustasi atas kondisi yang terjadi. Ketika pikirku sampai pada kebuntuan tidak bersolusi. Ketika diriku hanya bisa duduk sendiri, tanpa bisa melakukan apa-apa.

Diam. Diamlah, bila bicaramu tidak berfaedah.

Selanjutnya, ku menengadah langit di siang hari. Aku lebih sering bangun pagi, dari pada lelap lagi setelah terjaga. Aku suka melangkahkan kaki, dari pada hanya duduk manis, sendiri. Aku suka berlari, dari pada berjalan. Aku senang melangkahkan kaki, dari pada bertransportasi. Aku menyenangi keadaan yang ku alami, sekalipun berpanas di bawah sinar mentari, hampir setiap hari.

Ya, untuk dapat sampai di tujuan, aku melangkah.

Aku, tidak menyesali keadaan yang terjadi. Akan tetapi, menjadikannya sebagai pelecut diri untuk berprestasi, Maka, engkau dapat menyaksikan kini? Di mana ku berada saat ini, teman? Semua tidak terjadi begitu saja, cepat, mudah, tanpa usaha diri. Tidak.

Aku, memang rendah. Akan tetapi, sekali-sekali, jangan. Aku tidak bisa direndahkan oleh mereka yang mau agar aku kalah dan menyerah. Tidak. Nun jauh di dalam diri, ku berkaca dan berkata lebih lantang. Terlebih lagi saat ku merasakan, lelah. Sebelum ia bilang, payah.

Bersama Allah, Engkau tidak sendiri. Innallaaha ma’ana. Yakinlah, percaya diri. Engkau bukan si buruk rupa yang tidak bisa menunjukkan diri. Engkau bukan si terlalu pemalu yang tidak bisa berekspresi. Engkau bukan si miskin yang tidak bisa berkreasi. Engkau bukan seperti yang mereka sangka, melecehkan dan menghinamu. Engkau bisa, menjadi seperti yang engkau ingini. Engkau mampu, berubah.

…. Begini ku menyemangati diri, seraya senantiasa berbenah, memoles diri.

Singkat cerita, tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana ku berproses hingga saat ini. Kecuali mereka-mereka yang tersenyum hingga di sini, hari ini. Engkau adalah saksi, teman. Saksi yang menelusuri perjalanan diri. Sehingga, akhirnya engkau tersenyum secantik dan semenawan itu, di sana, saat ini? Engkau bahagia, yaaa, kita bisa bertemu lagi? Sungguh? Beneran?

Aaaa, aku terharu sekali. Aku mau nangis jadinya. Sebab engkau adalah yang selama ini ku nanti. Kehadiranmu adalah apresiasi bagi diri ini. Keberadaanmu yang sebelumnya imajinasi, bukan lagi. Sebab engkau asli. Hihihihihiiiii. Beneran, aku mau tersenyum, sebab tergeli. Karena benar-benar ku tidak sendiri dengan yang ku alami.

Seperti awan yang tinggi di atas sana, kita menjalani hidup ini. Tidak menetap, selalu berubah, berganti, hilang, datang dan pergi, tidak abadi.

Di sana, dari mana-mana, engkau menemani. Bersama tatapan mata yang terus berlari, engkau tersenyum berkali-kali. Dengan ekspresi yang berganti-ganti, engkau mensyukuri keberadaanmu di sini. Sebab engkau menemukanku, dalam kondisi terkini. Engkau tidak hanya mendengar cerita saja, tentangku, setelah aku berpulang dari dunia ini. Akan tetapi, kita masih bisa berinteraksi, bertukar kata, berkomunikasi sejak ku masih di dunia ini.

Selamat yaa, padamu ku mengapresiasi. Terima kasiih. Semoga, di sana, engkau sehat adanya, baik-baik, bersemangat, penuh senyuman menjalani hari, dan senantiasa berbagi. Berbuat baik dari waktu ke waktu, meski tidak ada seorang pun yang memperhati. Engkau tetap melazimi kebaikan demi kebaikan yang engkau yakini, meski tiada tepuk tangan sama sekali. Apalagi puji, tidak. Namun tentang hal ini, engkau mengembalikan pada hati.

“Dalam rangka apa engkau berbagi?”

🙂 🙂 🙂

Diterbitkan oleh My Surya

MENULIS : MENU(tup) LIS(an)

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: