Hujan

Mentari di balik awan, sebelum hujan turun ke alam

Hujan. Bersamamu ada kedamaian, kesejukkan dan keindahan. Apalagi mengabadikan momen turunmu yang sangat berkesan. Sungguh, membuatku segera mengembangkan senyuman. Meski diantara degub jantung yang berhias ketakutan, ku pernah memberanikan diri merekam suasana hujan. Hiiiy, seram, nuansanya mencekam, teman. Auranya ngeri-ngeri sedaap gitu. Yuhuuu. Ditambah lagi gemuruh bersahutan. Jadi, rasanya sulit terucapkan oleh kata-kata. Makanya, ku mencoba menuliskan. Semoga menggambarkan secuplik rasa yang ku alami, bersama hujan.

Pict : From Google

Hujan. Sering. Aku ingin mengabadikan momen turunnya. Akan tetapi, ketakutanku lebih besar dari keberanian. Sehingga membuatku tidak jadi melakukan. Ah, terlewat sudah kesan bersama derai airmata langit untuk ku pandang-pandang kemudian, setelah hujan reda. Akan tetapi, saat ini ku ingin berpesan, buat diriku awalnya. Yaitu dengan cara mencoba merekam hujan. Rekaman yang ku buat tidak lagi dalam ingatan saja, namun berupa sebuah tulisan. Ckxkxk. Jadi, bagaimana rasanya? Aku menjadi terbahagiakan. Yeaaaahahahaa, sungguh sesederhana ini bagiku untuk bahagia.

Hujan. Dengan mengabadikan momen hujan seperti ini, ku merasakan seperti telah melalui sebuah tantangan. Aku merasakan kemenangan. Menang menghadapi diriku sendiri yang takutan. Alhamdulillah, allahumma soyyiban nafian. Ku berdoa di bawah atap saat turunnya hujan.

Hujan. Turunmu saat ini lumayan kelamaan. Ditambah pula dengan waktunya aku harus merapikan kenangan tentang keseharian. Nah, berhubung engkau turun dan aku tidak mau kebasahan, akhirnya merangkai senyuman seperti ini yang ku lakukan. Aku tidak berlari ke halaman, untuk mandi hujan sebagaimana yang tidak jarang ku lakukan. Aku memilih menutup jendela dan kemudian menarikan jemari merangkai tulisan. Semoga, ku kembali terkenang dengan momen ini, kelak. Membahas hujan, bersama senyuman.

Hujan. Terima kasih ya, atas kehadiran. Esok, lusa, kapan-kapan hadir lagi yaa. Jangan pernah bosan. Walau tidak selalu semua makhluk Tuhan menerimamu dengan senyuman. Akan tetapi wahai hujan, tetaplah membasahi alam.

Hujan. Tetaplah hujan. Tetaplah menyegarkan pepohonan, melembabkan tanah, membasuh jalanan. Tetaplah menyuarakan kedamaian. Tetaplah membagikan kesejukkan. Tetaplah hujan agar ku kembali merangkai senyuman, tentangmu. Ya, aku masih mau merangkai senyuman ketika engkau turun, wahai hujan. Sembari menanti hadirnya sinar mentari lagi, ku merangkai tulisan.

Hujan. Ku percaya, engkau tidak turun sepanjang malam. Engkau tidak turun seharian. Engkau hanya turun pada waktu yang ditentukan. Sesuai dengan perintah Tuhan, waktu turunmu dipergilirkan. Ya. Engkau tidak turun dalam waktu bersamaan di lokasi berbeda, bukan?

Hikmah yang dapat ku petik dari Hujan :

Aku yakin. Meski saat ini turun hujan, esok bisa jadi tidak. Walau sekarang ku berbasahan dengan airmata kesedihan, seperti airmata langit membasahi alam, semoga lusa bisa berpelukan dengan kebahagiaan. Sekali pun mendung melingkupi pikiran dan ujungnya turun hujan airmata, mudah-mudahan tidak kelamaan. Sebagaimana yang engkau pesankan, teman. Agar ku kembali pada kesadaran dan tidak tenggelam dalam perasaan yang ‘terkadang’ ku ciptakan sendiri. Karena ku percaya, setelah hujan hadirlah pelangi. Setelah mentari bersinar, awan akan hadir menyejukkan alam yang dilanjutkan turunnya hujan.

πŸ€—πŸ˜ŠπŸ€—

Hujan. Aku menikmati kehadiranmu saat ini dan akan merindukanmu, saat belum turun lagi.

πŸ€—πŸ˜ŠπŸ€—

Diterbitkan oleh My Surya

MENULIS : MENU(tup) LIS(an)

2 tanggapan untuk “Hujan

    1. Ya tentu, Mbak Emi yang ngajarin kannnn.. masih ingat ga? hayo ngakuu?
      #justkidding.

      Terima kasih kunjungannya Mba, selamat berakhir pekan, semoga sehat selalu dan bahagia menyertai hatimu senantiasa.
      Salam perkenalan dariku, πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: