Selepas Hujan

Aroma wangi bunga tanah, kembali ku hirup pagi ini. Ku menghirupnya pelan-pelan, lambat-lambat, bersama tarikan nafas yang ringan. Aku menikmati suasana ini, bersama cuaca alam yang semakin kejam. Aih! Gemetar seluruh persendian, oleh dinginnya. Dingin yang mencengkeram seluruh ragaku, hhuhuhuu. Brrr, aku tidak bisa bergerak seleluasa biasanya. Lantaran, kaki-kaki dan tanganku mulai kaku, teman.

Aku bisa semakin kaku, lalu mati pelan-pelan, bila ku masih saja diam tanpa pergerakan. Aku tidak mau, sungguhan. Setidaknya, belum untuk saat ini. Kecuali kehendak Tuhan sudah berlaku untukku. Aku menerima dengan sepenuh ketulusan. Penerimaan untuk kembali ke pangkuan-Nya bersama senyuman. Maka, ku menghiasi waktu yang sangat mencekam ini dengan pergerakan.

Aku turun ke alam. Aku menyapa sisa-sisa tetesan hujan yang menempel pada permukaan daun. Ku menyalami bebungaan yang merunduk kedinginan oleh air hujan yang membasahinya. Aku tersenyum pada rerumputan yang berteriak kegirangan. Aku memberikan kebahagiaan pada tetumbuhan yang ada di sekitarku, dengan menyapa bersama perasaan. Aku dan mereka pun terlibat percakapan. Kami saling bertukar suara, walau dalam diam. Diam-diam, kami berbagi kisah dan cerita tentang hujan. Kisah yang membuat kami sampai tersentuh dalam waktu bersamaan. Kisah tentang hujan yang menjadi jalan hadirnya kesuburan, air yang membawa keberkahan.

Ya, akhir-akhir ini hujan sering turun ke bumi, teman. Hujan yang memberikan kesejukkan, kesuburan, hingga tetumbuhan tersenangkan oleh kehadirannya. Hujan yang melaksanakan baktinya sebagai ciptaan Tuhan, dengan penuh kesungguhan. Hujan yang turun dalam waktu tepat, di tempat yang tepat, dengan jumlah takaran yang telah ditentukan sangat pas. Hujan yang juga makhluk ciptaan Tuhan, hadirnya bukan tanpa alasan. Semoga menjadi jalan sampaikan ingatan kita kepada Sang Pencipta, setiap kali hujan turun ya, teman. Dengan begitu, kita mensyukuri kehadiran hujan, kapan pun Dia turunkan.

Berbincang tentang hujan, aku punya kisah untuk ku bagikan. Kisah ini, sangat mudah mengingatkanku untuk mengembangkan senyuman. Sebab ku menjadikannya sebagai pengalaman. Pengalaman berkesan dan tidak mudah untuk ku lupakan. Bagaimana bisa, teman?

Yah, pada suatu hari, aku dalam perjalanan. Perjalananku selepas hujan. Perjalanan yang perlu dan mesti ku tempuh, supaya sampai di tujuan. Perjalanan yang ku alami, sendirian. Berjalan sendiri, di jalanan. Berjalan, melangkah, dengan perasaan yang penuh ketenangan. Perjalanan seraya menghirup udara kebebasan. Perjalanan membawa kebahagiaan, sebab ku masih dapat menggerakkan diri, hati dan pikiran. Perjalanan yang membuatku mengembangkan senyuman lagi dan lagi, ah, mungkin hanya pikiranku atau ku memang benar-benar tersenyum?

Perjalan ku tempuh, selangkah demi selangkah. Langkah-langkahku terayun sangat ringan, dalam damai, sepenuh perasaan. Sehingga ku tidak merasakan, ada gangguan di perjalanan. Aku semakin damai.

Ku masih saja berjalan, menikmati langkah-langkah, walau ternyata ada yang membasahi diriku. Aku terus melangkah, tanpa menghiraukan percikan air yang kalau ku anggap, akan membuatku melontarkan segenap ucapan. Ucapan untuk meluahkan perasaan, ucapan untuk mengomeli keadaan, ucapan supaya mereka tahu, bagaimana kiranya menjadi aku. TIDAK. Aku tidak bisa demikian. Kecuali, menikmati suasana, menerima keadaan, lalu terus berjalan. Aku memang demikian. Tidak mesti memberikan cercaan atau sejenis umpatan, pada keadaan yang tidak ku inginkan, namun sampai padaku. Tidak.

Maka, setiap kali mengingat kejadian tersebut, aku bisa tersenyum mengenangkan. Aku tersenyum, sebab mereka adalah jalan bagiku untuk tetap merangkai senyuman. Sebab, keadaan tersebut menjadi bagian dari ingatan. Ingatan bagiku, menjadi inspirasi tentang hujan.

Hujan menyisakan sebuah genangan air di tepi jalan berlubang. Hujan memberikan kesan padaku sebagai seorang pejalan. Hujan, terima kasih untuk kenangan yang engkau sisipkan. Hujan, ku masih tetap menyukaimu. Suka, walau bersamamu ada aura dingin menusuk hingga ke sumsum. Hujan, tetaplah turun, membasahi alam. Hujan yang menyuburkan tanaman, memberikan kesegaran setelah ia layu kepanasan. Hujan, saat engkau belum turun ke alam, ku setia menantikan. Hujan, tetaplah berkesan.[]

🙂 🙂 🙂

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s