Tips Tetap Bahagia Akhir Pekan Ala Me (11)

Selamat bertemu lagiii… πŸ™‚

Pada pertengahan bulan, kita kembali berjumpa. Pertemuan tanpa tatap mata, hanya melalui kata. Pertemuan tanpa sua, hanya bertukar suara. Pertemuan tanpa bergenggam jemari, namun melalui rangkaian kalimat saja. Pertemuan yang selama ini ku damba, ya, begini adanya.

Pertemuan kita dalam diam, tanpa seorang pun yang bicara. Pertemuan untuk menemukan makna dan arti kehadiran kita di dunia. Pertemuan dalam rangka meneruskan langkah-langkah sebelum akhir usia tiba. Pertemuan untuk menempa diri yang sempat mengecap indahnya masa bersama. Pertemuan dalam misi membangunkan diri agar ia senantiasa terjaga saat sendiri. Pertemuan untuk membawanya serta dalam setiap gerak dan langkah bersama sekeping hati di dalam dada. Pertemuan untuk tersenyum pada dunia, meski di dalam hati ada lara, hahaaa.

πŸ˜€ Ahiyaa? Akhir pekan, bersama lara, mana bisa? Makanya ku merangkai kembali kata, untuk menjemput bahagia. Dengan begini, ada segelintir bahagia yang mendekat perlahan, awalnya sedikit, lama-lama menjadi bukit. Syuuut, sePuasnya yaa?

Ah, iya. Beginilah salah satu cara menemukan bahagia, ala aku teman. Menulis merangkai kata, lalu meluahkan segala yang ada di dalam dada, tanpa perlu ada yang menghalangi. Jangankan mencolek-colek, untuk menepi di sisiku tidak ada yang sudi. Alasan apa? Mereka takut mengganggu, hiddhiiiihiiiiiiiii, sebab kalau sudah merangkai kata begini, aku sungguh seriusnya. Sehingga, berekspresi pun tidak terkendali. Terkadang bisa senyum-senyum sendiri, terkadang tertawa ngikik, terkadang menangis membanjir airmata di pipi, bahkan tidak jarang berkaca-kaca. Sungguh menawan caranya, bukan?

Ya, engkau pun dapat melakukan apapun yang dapat engkau daya, meski dalam kondisi tidak dapat tersenyum sama sekali. Akhirnya, engkau mampu menarik dua ujung bibir ke arah berlawanan bersamaan dan apakah yang terjadi kemudian? Tidak hanya tersenyum kawan, engkau juga bisa bersapa dengan sesiapa. Semua terjadi, kalau engkau melakukannya benar-benar, dengan maksud tulus.

Seperti yang ku lakukan saat ini, menulis. Menulis yang berlanjut dengan membaca, lalu….

Bonusnya adalah, aku dapat membuka cara pandang, lebih luas. Selain itu ku memiliki kesempatan untuk mengintip-intip isi dunia di luar sana. Meski hanya duduk dalam diam dan tampaknya tidak melakukan apa-apa. Sungguh kasat mata, memang. Akan tetapi, sedikit banyak dapat menghiburku yang terdeteksi membutuhkan refreshing sekejap.

Maksudnya adalah, agar hari ini yang ku jalani, benar-benar ku tekuni. Penuh konsentrasi, bersama hati. Yupp, untuk menjemput masa depan berseri, kita tidak bisa hanya duduk-duduk manis, tanpa melakukan hal berarti, bukan?

Yah, kita perlu bersinergi dengan semesta, untuk membantu kita agar dapat mewujudkan segala cita menjadi nyata. Tentunya bukan dalam waktu pendek dan singkat. Sebab, engkau, aku, kita, siapapun di sana, di mana pun berada, akan percaya ini. Bahwa hasil akhir yang baik dan terbaik, hadir setelah adanya proses panjang berkesinambungan. Bukan juga oleh titipan dari sesiapa, akan tetapi merupakan izin dari-Nya Yang Maha Kuasa atas diri kita.

Yah, coba perhatikan seksama. Siapapun adanya, yang saat ini berada dalam kehidupan bagusnya, mereka sebelum ini adalah para pejuang doa yang gigih. Mereka adalah pekerja keras tanpa pamrih. Mereka, adalah peraih mimpi yang tidak hanya mau diam-diam saja. Lantas, bagaimana dengan kita? Ah, aku ajha kali yaa? πŸ˜‰ πŸ˜†

Ya, ku kembali ke sini, bertemu denganmu teman, sejatinya aku sedang menanya diri. Kembali ku saat ini dalam rangka meneruskan misi, untuk merangkai senyuman dalam menembus langit hari.

Senyuman yang dapat menyibak kelamnya awan cara pandang sebelum berubah menjadi tetesan airmata. Senyuman yang dapat memberikan penerangan sebelum gelap memenuhi ruang pikiran. Senyuman yang dapat mengubah mood dari tidak baik menjadi lebih baik. Senyuman untuk mensenyumkan. Senyuman untuk menjemput bahagia saat ia jauh dari pandangan. Senyuman demi menjadikan diri lebih baik dari dirinya yang lalu. Senyuman untuk menata hati yang bila lama-lama dibiarkan sendiri, ia mungkin tidak sanggup menghadapi segala yang terjadi. Namun bersama senyuman, insyaAllah lebih indah menjalani apapun yang hadir di hadapan.

Sebab?

Bersama senyuman, bahagia semakin dekat, wahai sahabat berbagi. Maka, bagikanlah senyumanmu meski seulas adanya. Sebab kita tidak tahu, pada senyuman kita yang mana, menjadi alasan seseorang tersenyum kembali. Maka, tersenyumlah, baik sendiri atau dalam ramai. Apakah ada yang memperhati atau dalam keadaan sunyi.

Tersenyumlah sekali lagi. Tersenyumlah untuk diri sendiri. Senyuman yang akan kembali padamu, apabila engkau melakukannya dengan hati.

Akhir kata, terima kasih atas partisipasi, kehadiran dan ketegaranmu menyimak segala yang ku bagi, wahai sahabat berbagi. Iiiiiiiillilililiiii…. πŸ˜€ Pede amat akunyayaaa, ada yang mampir di sini dan ku temui sejak tadi. Iya dong yaa, percaya diri, untuk menyemangatinya dan supaya ia tersenyum bersama pikiran positif dari dalam diri.

Selamat menempuh hari, semoga senyuman berseri senantiasa engkau bagi. Senyuman dari hati yang akan sampai ke hati. Senyuman yang akan kembali padamu, suatu hari nanti. Kalau tidak di dunia ini, semoga kelak di akhirat sana, engkau memetik hasilnya. Senyuman yang berbuah manis di surga-Nya.

Aih.! Sudah ah, tidak mau berlama-lama di sini, sebaiknya kita kembali menjejak bumi, yuuks. Lalu menempuh hari dengan semangat baru, impian baru, ingatan pada hari-hari di masa depan yang sedang menanti. Sampai bertemu lagi sahabat berbagiku. Happy week end, thank you.[]

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s