Diam-diam Aku Rindu

Tentang rasa ini… aku pernah mengalami.

Warna ini, sudah tidak asing lagi.

Aroma wanginya, melekat di hati.

***

Pada pagi yang cerah tak bermentari, kita duduk bersama. Duduk menjuntai kaki di bawah tenda. Tendanya berwarna merah hati. Warna yang mengingatkanku pada suatu masa dulu, ketika kita berjauhan. Masa saat ku terjerat eratnya rindu. Masa yang membuatku hanya bisa menggugu dalam pilu. Masa yang ku jalani hingga bertahun-tahun lamanya. Masa laluku beraroma sunyi…

Ya. Ingatanku adalah tentang masa lalu. Masa yang telah ku lewati dan kini menjadi kenangan. Masa penuh rindu mengigit kalbu dan menggigilkannya hingga beku. Masa ketika engkau dan aku tidak dapat bertemu. Masa ketika aku hilang ditelan airmata bersama sendu.

***

“Hai, bagaimana kabar diri, hati dan pikirmu wahai engkau sahabat hati,” sekilas ku menyampaikan tanya padamu yang ada di sisi. Tanya yang tidak ku ucapkan dengan suara. Namun hanya mataku yang berbicara.

Melalui mata ini, ku memperoleh jawaban langsung darimu. Dengan mata, ku melihatmu tersenyum sungguh manisnya, sebagai jawaban untuk pertama kali. Melalui mata ini, terlihat engkau dalam kondisi senang hati.

Aku pun tersenyum padamu dari hati. Senyuman yang ku bagi sebab ku berbahagia dengan kebersamaan ini. Kebersamaan yang sudah sejak lama ku nanti-nanti. Bahkan sebelum kita saling mengenali. Alhamdulillah.

Detik ke detik terus berganti, bertukar, berubah, berlanjut dan tidak terasa sudah hampir satu jam kita bersama. Kebersamaan yang kita tempuh tanpa banyak suara. Namun tatapan sudah sangat bermakna.

Bagiku, diammu adalah permata, bicaramu adalah cahaya. Engkau menerangi hidupku tanpa kau sangka. Maka, tersenyumlah lagi, ya begitu, lagi dan lagi. Senyuman sebagai bukti bahwa kita adalah bagian diri yang senantiasa saling mengaca. Dalam senyumanmu aku memperhati, dalam senyumanku engkau menikmati.

Keep smiling my dear. Walau tidak akan pernah ada waktu lagi untuk kita. Sekalipun usia kita terhenti. Meski engkau dan aku tidak bersama lagi di dunia ini. Senyumanmu adalah alasanku tetap dan selalu ada di sini. Walau engkau telah pergi, senyuman ini tetap ku bagi, untukmu.

***

Akhirnya ku berani megucapkan, “Selamat tinggal, masa laluku yang bertabur rindu.”

Kini ku menyambut waktu detik ke detik dengan senyuman menebari pipi. Senyuman untuk menemanimu di sana, ketika kita berjauhan lagi. Senyuman untuk menghiasi waktuku di sini saat tidak bersamamu. Hingga senyuman ini menjadi sahabat terbaikku selain engkau.[]

😊😊😊

Iklan

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s