When I am Feeling Fall in Love

“Ketika ku merasakan jatuh cinta, semua yang ada di sekitarku menjadi indah. Keindahan yang tidak terucapkan melalui kata-kata, tidak terbersit dalam pikiranku, sebelumnya. Walau begitu, aku masih ingin menyusunnya menjadi ada. Agar engkau pun dapat merasakannya, wahai temanku yang berjasa.”

Tentang perasaan saat jatuh cinta, aku mewakilkannya pada sebuah acara. Acara yang membuatku berbunga-bunga menjalaninya. Acara yang ku alami untuk pertama kalinya, tentu saja memiliki kesan terindah. Yah, seperti itulah jatuh cinta. Acara perayaan pernikahan.

  • Jatuh cinta, saat dua mata bertemu, lalu senyuman menebar di pipi begitu saja.
  • Jatuh cinta, saat kita tidak sedang bergenggaman tangan, tapi mau.
  • Jatuh cinta, ketika jarak masih ada di antara kita, meski berdekatan.
  • Jatuh cinta, saat suara apapun tidak lagi kita dengarkan, namun menikmati waktu berduaan.
  • Jatuh cinta, dalam-dalam, lekat-lekat, erat-erat, berharap selalu begitu.

Peliharalah cinta yang sudah ada, tumbuhkembangkan dengan sesubur-suburnya, jaga ia tetap bersemi demi mewujudkan visi hidup, yaitu ‘Fastabiqul khairat.’

….. dan rasakanlah indahnya mencintai, manfaatnya bagi diri, dan selain diri. Sebab cinta adalah anugerah Ilahi yang tidak terbeli. Datang dan perginya sesuai dengan ingatan kita kepada-Nya. Semakin sering mengingat-Nya, semakin mudah mencintai. Semakin jarang mengingat-Nya, begitu pula dengan kondisi cinta di dalam hati. Apalagi saat kita terlupa kepada-Nya, maka seperti itulah cinta yang tersisa pada diri. Wallahu a’lam bis shawab.

Jatuh cintalah. Dengan demikian apapun yang ada di sekelilingmu menjadi keindahan tidak terungkapkan. Engkau merasakan, menghayati, menikmati, mensyukuri, yang ada di sekitarmu dengan sepenuh hati. Sehingga membuat airmata tidak tertahankan lagi, seiring cintamu yang terus meninggi. Engkau semakin.. semakin.. semakin.. merendahkan hati dengan cinta yang engkau rasakan. Lalu memuji-Nya Yang Maha Cinta. Ia yang menitipkan cinta tersebut padamu. Makanya engkau dapat mencintai dengan sepenuh hatimu yang berada dalam genggaman-Nya.

Cintalah pada apa saja, pada sesiapa saja, maka hidupmu damai, tenang, tenteram, penuh dengan kesejukkan.

Jatuh cintalah pada semilir angin yang menepi di permukaan kulit. Dengan demikian engkau tidak lagi kegerahan, tapi menjalani waktu dengan penuh ketenangan, perasaan tenteram, damai, damaii…

Jatuh cintalah pada pemandangan alam yang ada di atas sana, yah. Awan memutih nan lembut, menyambut cintamu dengan meneteskan hujan. Makanya engkau merasakan kesejukkan, di tengah teriknya kehidupan. Dengan cinta, sejuk, sejuk, sangat sejuk terasa hidup ini, teman.

Jatuh cintalah pada helai-helai dedaunan yang bergerak tanpa terjatuh. Jatuh cintalah pada setiap geraknya, sampai nanti ia tiba pada takdir diri, perlahan, seiring waktu, turun juga ke bumi, setelah warnanya berubah menjadi kuning atau kecokelatan. Begitu pula dengan cinta yang engkau punyai. Dengan cinta, engkau ikut titah Ilahi untuk diri. Mengikuti, turut, patuh, taat, tanpa menyanggah. Mudah menerima, sangat mudah memberi. Tanpa kecuali, tanpa alasan lagi, tanpa harus diganti. Engkau berbuat karena-Nya.

Jatuh cintalah pada gemericik aliran air yang tiada henti, terus terdengar, di sungai yang engkau lewati. Cintailah gemericiknya, seraya mencelupkan jemarimu di sana. Lalu, genggam air tadi, bawa ke wajahmu. Basuhlah wajahmu yang semua kering, dengan air yang ada. Apakah yang engkau rasakan, teman? Engkau merasakan segar, bukan? Seperti itulah rasanya cinta. Menyegarkan, penuh kesegaran, rasakanlah. Cukup rasakan indahnya.

Jatuh cintalah pada bentangan rerumputan yang hijau warnanya. Cintailah lambaiannya yang seakan menyapamu untuk tunduk, memperhati, tidak selalu menengadah ke atas. Ya, perhatikanlah mereka yang ada di bawahmu, yang level hidupnya tidak setara. Yang kehidupan ekonominya kurang, bahkan yang tidak berada.

Engkau, ingatlah bahwa, kita di dalam pandangan-Nya, bukan ditentukan oleh berada atau tiada dalam hal harta, materi, pangkat dan jabatan. Akan tetapi, ketaqwaan di dalam dada. Maka, semoga kita lebih gemar menyelisik ke dalam diri, tentang siapa ia dan bagaimana, untuk mencari tahu kualitasnya. Mudah-mudahan, dengan demikian, kita senantiasa sadar diri, who am I actually?

Apakah aku memang pantas dicintai, dengan kadar cinta yang ku miliki? Cintaku baru segini, sedangkan cinta yang ku terimaaa…. huuwwwwaaa, astaghfirullahal’adziim. Aku mau nangis sejadi-jadinya. Sebab, sering ku mengaku mencintai-Nya, namun kepada-Nya aku sering lupa. Aku tergoda untuk mencintai yang tidak abadi, sering kali. Astaghfirullahal’adziim. Ya Wadud. Wahai Yang Maha Cinta.

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. ” [Q.S Hud (11) : 90]

“Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai hamba-hamba-Nya [al-Burûj/85:14].

Read more https://almanhaj.or.id/3863-al-wadud-yang-maha-mencintai-hamba-hamba-nya-yang-shaleh.html

🙂 🙂 🙂

Iklan

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s