Persahabatan dalam Diam

Menatap Ke Atas Mengaca Diri
Menatap ke Atas Mengaca Diri

“Jalinan persahabatan yang tercipta antara kita tidak harus melalui tatapan mata, saat bertemu. Namun juga bisa melalui pertukaran suara jiwa, dalam diam.” 😘

Hey! Engkau yang tinggi menjulang. Apa kabarnya saat ini? Apakah tinggimu sudah menjangkau awan? Bagaimana dengan suasana hati? Apakah mengikuti tingginya dirimu, wahai kawan?

Ya. Aku menyapamu. Temanmu yang tidak setinggimu. Aku yang yaaaa, begini adanya. Aku yang senang menatapmu sekali lagi, setelah tatapan pertamaku sampai pada dirimu. Sebab ku suka memandangmu.

Menatapmu, menenangkan
Menatapmu, menenangkan

Aku sering melihatmu menengadahkan wajah. Begitu selalu, terus begitu. Akibatnya kita tidak pernah bertemu tatap. Adakah sebab yang melatarbelakangi? Sehingga tidak sekali pun engkau memperhatiku? Apakah engkau tidak menyukaiku? Atau sangat suka dan jadi malu? Malu, kalau tatapan kita bersatu? Sedangkan engkau belum siap, huhuhuuu. Aku jadi pilu.

Ai! Saat mata kita tidak dapat bertemu dalam satu waktu, tatapanku bisa menjangkau langit beserta awan-awannya yang memutih. Sebab ku masih ingin terus membuka mata ini, dan melihat indahnya dunia, selainmu. Sebagai bonusnya? Aku bisa melirik leher jenjangmu. Pemandangan yang menarik, unik dan antik menurutku. Pemandangan yang membuatku terpesona pada saat sama.

Putihnya persahabatanmu seperti menatap awan di antara birunya langit
Putihnya persahabatanmu seperti menatap awan di antara birunya langit

Lalu merindukanmu, ketika kita tidak berjumpa. Maka ku menatap langit yang tinggi dengan keterbatasan yang ku miliki untuk melerai rindu. Ku mengulur pandangan sejauh-jauhnya, supaya lepas rasa ini. Walau padanya dan bukan padamu, aku lega. Sebab ku dapat mengeluarkannya. Ini dahsyat. Perlu perjuangan, kawan. Harus ada usaha. Tidak bisa hanya menunggu, lalu rinduku melebur sendiri. Tidak.

Betul, kawan. Sejak ku mengenal ragamu melalui tatapan, aku pun ingin menjadi temanmu. Teman yang ku rindukan saat jauh, ku tatap-tatap sepenuh perasaan saat berdekatan, ku jadikan ingatan saat tiada, ku doakan dalam berbagai kesempatan. Makanya, ku mencari-cari cara agar kita dapat berteman. Supaya dapat berbagi pesan tentang kehidupan dan juga kematian. Salah satunya dengan menulis sapa untukmu. Sebab ku menyadari suaraku tidak selalu ada.

Jauh di mata dekat di hati
Jauh di mata dekat di hati

Aku melakukan aktivitas ini sering-sering, sejak mulutku tetiba bungkam, setelah mengetahui engkau dekat denganku. Apalagi setelah ku menyadari, kita bisa sangat akrab dengan cara begini.

Ya. Aku menulis dan engkau membaca. Dalam satu waktu kita bisa bertukar kabar, berbagi rasa, menebar pengalaman dan juga pengetahuan. Sehingga tanpa perlu berjumpa, kita sudah bercakap mesra. Betapa indahnya, yaa. Meski mata tidak bertatapan, ku merasakan engkau hidup, ada, menjadi sahabat dari perjalananku.

Saat kita tidak bersama, rasaku bertaburan, bersemi, membuat senyuman mudah terbitnya. Seperti saat ini. 😊😊😊 Senyuman ini untukmu.

Saat Engkau Jauh, Aku Merindukanmu
Saat Engkau Jauh, Aku Merindukanmu

Ya. Aku sedang tersenyum, di sini. Senyuman untuk berbagi. Berbagi yang ku rasakan saat ini. Apakah gelombang rasaku sampai padamu, teman. Rasa dariku, temanmu yang tidak terlalu berbeda sifat denganmu.

Adapun yang ku syukuri darimu adalah sifat. Engkau sangat pemalu, (aku apalagi, xixixii, engkau tidak akan percaya ini. Aku yakin). Sampai-sampai melirikku pun engkau tak pernah sanggup. Atau saat ku lengah, engkau mencuri-curi pandang? Saat mataku kembali tertuju ke arah bumi, engkau menekur dan memperhatikanku semaumu? Saat aku menunduk lagi, engkau mengedarkan pandanganmu dengan bebasnya?

Persahabatan itu menenangkan jiwa
Persahabatan itu menenangkan jiwa

Hm, entahlah. Apa yang sebenarnya engkau lakukan, aku tidak tahu. Kecuali menerka dan belum tentu benar.

Baiklah, tidak usah terlalu ku pikirkan kali yaa. Sekarang aku mau memperhati senyumanmu lagi. Senyuman tanpa henti, penuh makna. Senyuman sepenuh hati, dari hati dan sampai artinya padaku di sini.

Aku mengartikan senyumanmu sebagai tanda terima atas uluran persahabatan dariku. Alhamdulillah, thank you.

Terima kasih, sahabatku. []

😊😊😊

Diterbitkan oleh My Surya

MENULIS : MENU(tup) LIS(an)

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: