بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Terinspirasi dari suatu senja menjelang malam. Saat kami, saling berbagi ingatan tentang diri. Maka, hadirlah blog terbaru ini. Blog yang akan kami manfaatkan untuk merangkai catatan tentang perjalanan hidup ini. Bertepatan pula, blog Engkau dan Aku sudah penuh space buat upload media-nya. Alhamdulillah. Namun ia masih ku ingin ada, sebagai tempat baca-baca.

Hai, hidup tampak kurang meriah tanpa media, bukan yaa. Jadi, ke depannya, dalam postingan, aku masih ingin menyelipkan, untuk menghiasi catatan. Sebagai pemeriah, mencerah pandangan. Boleh ya, ya, yaa.

Di sini, izinkanlah kami bersinggah lagi, sebagai bagian dari penduduk bumi yang masih saja dan selalu mau mengeksiskan diri, hihihiii. Siapakah kami?

Kami adalah pasangan yang baru-baru ini berjumpa untuk menyatukan hati, mengikat janji, meneruskan peran diri sebagai khalifah-Nya di bumi. Semoga, berkah senyuman yang kami bagi, mensenyumkan engkau pula, wahai para sahabat pembaca yang baik hati. Salam persahabatan dari kami.

Senang rasanya, kita kembali berjumpa di ruang ini. Semoga masih ada kesempatan kita bersua lebih lama, lebih sering, untuk menceriakan hari-hari ke depannya menjadi berseri-seri.

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dan inilah kolaborasi karya pertama kami, dalam bentuk rerangkai suara hati. Begini kami menyebutnya. Merangkainya berdua, saling melengkapi. Semoga teman-teman suka yaa. 🙂 Dan bagi yang menambahkan, semoga terbahagiakan hati. Dengan begini, kita dapat saling menebar inspirasi. Melalui cara sederhana, dari hati. Semoga sampai ke hati pula.

Catatan ini tentang suara hati seorang wanita yang tergila-gila pada seorang lelaki yang ia idamkan selama ini. Laki-laki tersebut ada di depannya, kini. Ya. Cita-citanya sudah tercapai. Cita dunia, seorang wanita muda, ketika itu.

Sekian kali ku mengimpikanmu, kini engkau hadir. Kehadiranmu membuatku tersenyum, berbunga-bunga. Senyuman yang ingin ku rangkai sedemikian rupa, bersamamu. Dengan demikian, engkau tahu, bagaimana rasanya, ‘cinta’.

Ku genggam sebongkah ingat, pada impian lalu. Saat ku berada di tepi pantai bahagia. Di sana, pepasir saling berpandangan penuh makna. Buih-buih berlarian menemukan makna tersebut. Sedangkan semilir bayu, ikut menafsir makna dari impianku. 

Impian yang lalu, impian seorang gadis lugu. Impian yang terbarukan, seiring waktu. Impian untuk bertemu denganmu. Pertemuan dalam nuansa alam yang masih alami, di antara cericit beburung, saat mentari tersenyum malu-malu, dari balik dedaunan. Sedangkan embun belum gegas memuai. Karena ia masih sangat ingin merasakan kesejukan menghiasi bumi. 

Angin yang bertiup, pernah bertanya padaku. Saat ku mengembara. Pengembara tanpa tujuan, yang masih saja mencoba menggenggamnya.

Angin bertanya, “Bagaimana engkau masih mencoba menggenggamku dan bertanya tentang wujudku?”

Dengarlah, wahai temanku, “Aku adalah ciptaan-Nya yang menghiasi seluruh pelosok alam. Menemanimu di seluruh lembaran kulit, dan aku hadir, saat engkau mau menghadirkan aku. Kipaskan tanganmu, ke arah wajah. Di sana, aku bersemayam, membuatmu tidak lagi merasakan gerah. Aku yang memang tidak kelihatan, bukan berarti tiada. Percayalah, di mana-mana engkau berada, aku menemani.”

Begini ia berpesan padaku, tentang dirinya. Pesan yang membuatku kembali damai, sebelum bertanya semakin banyak, lagi. Hai, sahabatku angin, yang damai yaaa, bertiupnya. Kini, aku merasakan senyumanmu bersemilir, untukku. 

🙂 🙂 🙂

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s