Menulis untuk membicarakan tentang Warna dan Rasa dalam Perjalanan Hidup

– Saat menjalani hidup yang penuh warna dan rasa dengan kesungguhan, terkadang engkau perlu waktu untuk berdiri sejenak untuk merenungkan apa, siapa, bagaimana, kapan dan siapa yang terlibat di dalamnya?

***

Hidup ini, sejatinya adalah perjalanan. Perjalanan yang dapat kita tempuh dengan atau tanpa senyuman. Senyuman yang menjadi saksi, saat kita mengayunkan setiap langkah. Langkah-langkah yang menjadi bukti, apakah kita menikmatinya?

Hai, teman. Hidup ini singkat, sungguh pendek. Pendeek sekali. Sekali kita lengah, maka kita akan terlewat sebuah kesempatan berharga. Kesempatan tersebut ada di antara waktu yang kita jalani dalam hidup ini. Kesempatan yang tidak akan pernah terulang, setelah ia berlalu. Maka, ingatlah tentang kesempatan.

Hai, teman. Selanjutnya, apakah yang dapat kita upaya, supaya kesempatan berharga dan terpenting dalam hidup tidak terlewat begitu saja? Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Adapun salah satu tips sukses memanfaatkan kesempatan adalah dengan menulis. Yuups, menulislah.

Ah, tentang menulis, aku sudah sangat lama melakukannya. Akan tetapi, akhir-akhir ini, ku terlewat menulis. Apa sebab? Aku menemukan banyak sekali alasan, mengapa menulis menjadi aktivitas yang tidak lagi menjadi prioritas dalam waktuku. Kini, ku memiliki aktivitas penting selain menulis.

Dulu saat memulai karir menulis blog, aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, untuk tidak meninggalkan menulis dalam keadaan apapun. Walau bagaimana pun, aku mesti dan siap menulis. Akan tetapi, kini semua tinggal janji.

Nah, apakah aktivitas yang membuatku ingkar dari janji pada diri sendiri tersebut? Adalah kenyataan hidup ini. Bayangkan! Aih, tidak pernah terbayangkan olehku, sejauh ini. Kegiatan membersamai keluarga baru dan keluarga kecil kami, membuatku berpaling dari menulis, rupanya. Menulis yang biasanya menjadi temanku saat sendiri, sedih, suka, duka, dalam patah, saat jatuh, ketika bangkit dan berupaya berdiri lagi, saat ku tidak memiliki kegiatan, saat ku sedang memerlukan pekerjaan, maka aku menulis. Lah, kini semua ku pendam sendiri, tidak lagi ku tuliskan.

Padahal, bagiku, menulis adalah sebuah sarana untuk meluapkan segala rasa yang ada. Apabila ia sudah semakin memenuhi ruang dada, melimpah dari pikiran, maka ku tuliskan. Eh, eh, manfaat dari menulis tersebut pun ku rasakan sesaat setelah semua ku lakukan. Aku sungguh sangat senang melakukannya, sebelum ini. Tapii.. sekarang tinggal dinasti. Hihii.

Aku, memang bukan seorang penulis. Akan tetapi, merangkai diari maya sejenis blog sudah ku lakukan dalam waktu lama. Saat tidak melakukannya lagi sudah sangat lama, saat ini ku merindukannya. Yap, aku merindukan aktivitas ini, lagi. Aktivitas yang biasanya menjadi penebas segala sepi, hihii. Apalagi saat bibir tidak bisa berucap apa-apa, padahal ada yang menyesak di dalam dada untuk ku luahkan ke muara kata. Ketika ku sedang jatuh cinta, misalnya, hahaa. Alhasil, terciptalah puisi indah yang penuh dengan bunga-bunga kata. Kata-kata yang tidak pernah ku bayangkan, ada. Tapi, semua bisa tercipta, saat ku melakukannya sepenuh rasa saat cinta menyapa jiwa.

Ada apa dengannya? Dia terdiam menunduk kepala. Rambut kusut tidak tertata. Airmata menetes ke pangkuannya. Tatapan sayu tanpa cahaya. Wajah kusam tidak ceria. Hai. dia siapa? Ada apa dengannya? Dia sedang patah hati, rupanya. Tidak sepertiku yang sedang jatuh cinta. Aku bisa membedakannya, dari rona wajahnya saja. Inilah yang ku maksud, bahwa menulis bisa membuatku bicara.

Berwarna Pink

Rindu Padamu sungguh sangat
I Miss You

Dear my friend, di sini, ku menepi dari ruang sunyi untuk menyapa hatimu. Aku merindukanmu.

Di sini, aku pernah mengenal seorang teman. Teman yang belum pernah ku temui di dunia nyata, hingga saat ini. Padahal ku sudah mengenalnya sangat lama. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, perkenalan pertama kami berlangsung. Teman yang sangat berarti bagiku. Beliau sungguh sangat berharga. Teman yang ku hargai sebagai sosok berbudi pekerti luhur, penuh canda, mudah berekspresi, sungguh ceria saat kami bertukar bahasa melalui rerangkai kalimat. Entah bagaimana aslinya, apakah sama seperti yang ku sangka?

Welcome to my hometown

Sejak mengenal beliau, ku menjadikannya sebagai inspirator. Yuhuu, tepat saat ini, aku terkenang dengan beliau. Bagaimana kabar beliau kini? Apakah baik-baik saja? Seperti apakah kondisi kehidupan beliau saat ini? Semoga sehat sejahtera dalam bahagia, hendaknya. Aamin. Sama seperti awal ku mengenal beliau, kini aku kembali berdoa, “Ya Allah. Apapun kebaikan yang beliau rutinkan dan menebar padaku hingga sampai saat ini diriku juga merutinkannya, sehingga menjadi bagian dari amal shaleh, semoga beliau juga dapat merasakan manfaatnya. Semoga ajakan untuk melakukan kebaikan demi kebaikan yang beliau alirkan melalui rerangkai kata, mengalir juga pahalanya hingga ke akhirat nanti. Salah satunya adalah tentang senyuman. Ya, tersenyumlah, maka senyuman tersebut kembali lagi padamu. Meski dalam keadaan tersedih di episode kehidupanmu, tetaplah tersenyum. Karena senyuman seseorang yang sedang bersedih adalah senyuman terindah. Sebab hanya orang-orang hebat yang mampu menampakkan wajah cerah ceria dalam kondisi hatinya babak belur, terluka, tapi ia tidak menampakkannya pada wajah. Ia tetap tersenyum, karena dengan begitu, ia merasa lebih baik. Suasana hatinya kembali terobati, oleh senyuman yang ia tebarkan.

Cobalah! Ya, tidak ada salahnya mencoba, semoga sukses, teman,” bisiknya padaku ketika itu.

Awal mengenalnya, aku dalam kondisi jiwa yang porak-poranda. Keadaan hatiku sedang pilu-pilunya. Aku seperti yang hidup segan mati tak mau gitu, lho. Hohooo. Nah, aku sungguh merasa sangat beruntung, mengenalnya. Entah aku yang hadir dalam kehidupannya atau ia yang tiba-tiba masuk dalam kehidupanku, aku tidak tahu. Namun yang ku tahu, keadaan diriku berubah total, drastis, detik-detik sejak kami berkenalan. Aku tetiba ingin tersenyuuum, aja lebih lama. Aku tidak lagi merasa-rasai arti sedihku. Aku hanya tahu, dia ada untuk merubah suasana hatiku. Aku pun jatuh cinta padanya. Hahaa, sungguh! Aku bahagia jadinya.

Ia, adalah sosok penyayang, setelah ku menelusuri melalui beberapa kalimat yang ia bagikan. Selanjutnya, aku semakin terpesona padanya. Aku terpesona, karena ku pikir, ia adalah sebaik-baik teman yang Allah kirimkan untukku. Sosok yang membuatku bisa merasakan, ternyata begini indahnya mengenal sesama saudara. Ukhuwah antara kami pun terjalin dari hari ke hari. Kami berkomunikasi, dalam waktu-waktu tertentu. Kalau bukan aku yang menyapa beliau, beliau yang menanyaku. Begitu pun sebaliknya. Akhirnya, kami pun bersahabat di dalam hati. Persahabatan dari hati yang sampai ke hati. Bila ku ingat beliau, aku pun merangkai kalimat, sebagai lambang persahabatan kami. Because my friend is my inspirator.

🙂 🙂 🙂

Untukmu, Teman Seumur Hidupku

Photo by Lisa on Pexels.com

Dalam salahku engkau memaafkan.

Dalam kurangku, engkau melengkapi.

Bersamamu, sempurnalah hidupku.

Terima kasihku, aku mencintaimu.

Engkau adalah temanku. Teman yang ku bersamai semenjak kita berkenalan dengan baik. Teman yang menyelami diriku hingga ke dasar lubuk hati terdalam, hingga engkau mengetahui siapa diriku sesungguhnya. Teman yang tidak meninggalkanku karena aku menolakmu. Teman yang tetap membuntutiku walaupun aku bilang ingin jauh darimu. Teman yang tetap ada, sekalipun kelak ku tiada. Untukmu teman hidupku, ku ucapkan, terima kasih atas semua.

Ya, terima kasih atas segala pengorbanan yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya. Akan tetapi, engkau begitu mudahnya berkorban untukku, tanpa perasaan berat sama sekali. Engkau sungguh sangat ringan melakukannya. Terima kasih ya.

Aku, sebagai seorang yang selama ini mendamba kehadiranmu dalam hidupku, sungguh sangat merasa beruntung. Aku bahagia dengan kehadiranmu dalam kehidupanku. Maka, bersamamu kehidupan yang ku jalani menjadi terasa lebih hidup. Ya. Hidupku menjadi lebih bermakna dengan adanya engkau dalam hidupku.

Buatmu, teman seumur hidup yang sampai saat ini masih membersamaiku. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah engkau dalam kondisi baik-baik saja sebagaimana yang ku lihat? Apakah engkau sungguh sangat menikmati waktumu, seperti yang ku perhati? Apakah engkau juga sangat bahagia dengan keberadaanku bersamamu?

Untukmu yang ku sayangi, ku cintai sepenuh hatiku. Engkau yang tetap sangat baik padaku, walaupun sesekali ku tidak membaikimu karena kurangnya pengetahuanku tentang kebaikan demi kebaikan yang semestinya ku lazimi. Engkau yang tetap tersenyum padaku, sekalipun aku terkadang berparas kurang menyenangkan di matamu. Engkau yang tetap berusaha membuatku senang, sekalipun aku sangat jarang menyenangkan hatimu. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertaimu.

Untukmu teman seumur hidupku yang penuh kebaikan, semoga ku masih ada kesempatan untuk mencontoh dan meneladani dirimu. Semoga, semoga masih ada waktu. Waktu yang tepat tersebut adalah saat ini, ya, sekarang. Aku ingin, melakukan yang terbaik dari diriku, untukmu. Semoga engkau suka, dan tersenyum penuh bahagia, karenanya. Ku mempersembahkan suara ini untukmu, semoga sampai padamu yang ku tuju. Segera, sesegeranya, walau pun tidak harus saat ini. Doaku untukmu, selalu. Doa yang selalu menemanimu, karena diriku tidak selalu ada di sisimu.

Dariku.

Untukmu.

🙂 🙂 🙂

Engkau Mentari di Hatiku (11)

Anak-anak, mereka adalah para mentari kecil kami

Haaii, emak-emak. Aku sekarang sudah menjadi emak-emak juga lho. Jadi? Sekarang kita berteman, hehee.

Ehiya, sebagai emak-emak muda, aku sangat senang. Senangnya, melebihi saat ku memandang langit biru siang hari, peneman diri ketika ku dalam menanti pasangan hati, dulu. Senangnya melebihi rasaku yang begitu tinggi pada mentari, rasa cintaku pada mentari.

Senangnyaaaa, karena aku mempunyai amanah beberapa orang anak kecil dalam waktu singkat. Alhamdulillah, mereka semua adalah titipan Allah, untuk ku ayomi, ku kasihi, ku sayangi, dan ku jadikan sebagai alasan untuk tersenyum, kali ini.

Hihi. Ai, senang sungguh senang adanya, di dalam hati ini. Senang yang tidak dapat ku takar dengan sebanyak apapun materi yang ku miliki. Senang, saat ku menyendiri dan merefleksi diri, kali ini. Aku sedang sendiri, saat ini. Maksudnya tanpa teman di sisi, kecuali para malaikat yang selalu menemani. Ada DIA Yang Selalu Memperhati.

Hup! Ini akhir pekan, teman. Siang menjelang sore. Tergegasku memetik ingat untuk menepi di sini. Aku kembali lagi. Baru bisa saat ini. Yup! Selagi ada kesempatan, tentunya. Menjadikan waktu yang sedikit ini, untuk menjalari ingat pada sesuatu untuk ku kenang, kelak. Karena setelah saat ini berlalu, ia akan menjadi masa lalu. Termasuk anak-anak, akan bertumbuh tanpa terasa. Tetiba, mereka sudah mendewasa seiring perjalanan usianya.

Yah! Kali ini ku mau bereuni dengan mimpi-mimpi. Seraya memandang selembar potret bersama anak-anak kecil di sekelilingku, ku tersenyum, kini. Bersenyuman dengan diriku sendiri, yang moody. Bersenyuman dengan keadaan yang tidak selalu mau bekerja sama denganku untuk senantiasa mengembangkan senyuman di pipi. Bersenyuman dengan diriku sendiri. Bersenyuman dengan segala ingatan yang ku coba rasakan, lagi. Bersenyuman, untuk merenungkan segala yang ku lakukan, ku alami, ku temui dan menghampiri diri ini. Walau tanpa ku prediksi, ternyata sudah begini, seperti ini, melakukan ini, dan ini…

Hai, emak-emak muda, lagi apa akhir pekan kali ini??

Aku lagi manja-manjain jemari, nih. Mumpung anak-anak sedang tidak di sisi, maka ku melenturkannya barang sejam dua jam. Sebab saat bersama anak-anak, ku tidak dapat menyentuh dunia maya ini. Shishishiiikshikshiks. Itulah mengapa, kita sangat sangat sangat jarang sekali bersapa, mohon untuk memaklumi.

Haiiii, ini bukan karena ku tidak dapat membagi waktu, tapi karena ku memang tidak minat saja menepi di sini. Jadinya, janjiku untuk senantiasa merangkai senyuman di sini, belum terlaksana lagi. Bukan beralasan karena mengurus anak-anak menghabiskan hampir seluruh hariku, tapi karena ku memang tidak mau membagikan keriuhan kami sepanjang kebersamaan. Bukan karena ku beralasan, tapi alasan itu memang tetap akan terus ada. Jadinya? Ya, seperti ini. Aku memang tidak dapat menemui mayaku, saat ku sedang asyik berjumpalitan dengan dunia nyata yang penuh dengan ekspresi dalam kebersamaan kami (aku dan anak-anak kami).

Sedikit merefleksi…

Tidak terasa, sudah hampir lima tahun saja, berlalu. Sejak ku benar-benar sangat aktif di sini, menyusun diari. Tidak terasa. Ini sangat cepat.

Aku masih ingat, awal tahun 2018, adalah penghujung waktuku membersamai diari maya ini, yang sebelumnya ku mengunjunginya hampir setiap hari. Namun setelah saat itu, ku mulai sedikit demi sedikit menepi darinya. Aku tidak mau benar-benar pergi, makanya menepi sesekali.

Aku masih mau membersamai. Tetapi, kenyataan memberikan bukti. Salah satu keadaan yang membuatku tidak sering meloading lagi di sini adalah keadaan signal di tempat tinggal kami yang belum sempurna adanya. Jadi, walaupun sesekali ada waktu untuk online, aku sudah tidak sesemangat dulu saja. Terlebih lagi, ada yang lebih penting untuk ku tekuni dan jalani, bukan hanya merangkai senyuman di diari. Akan tetapi, menjalani kenyataan bersama senyuman.

Tersenyum. Apakah aku selalu tersenyum di dalam berbagai kenyataan? Tidak. Tidak selalu begitu. Tidak seperti yang ku impi. Semua, seakan menjadi uji nyali bagiku. Apakah ku sanggup menjalani semua kenyataan dengan satu ekspresi yang ku sebut senyuman? Tidak. Ternyata ku tidak sanggup.

Aku adalah manusia sejati. Aku perempuan yang penuh dengan ekspresi. Emosiku terkadang tak terkendali. Terkadang maunya diam menyendiri, tidak bicara dengan siapapun. Terkadang ku mau berbagi suara, seringnya suka melakukan segala sesuatu. Intinya adalah, tidak diam begitu saja, tanpa melakukan apapun.

Marah. Aku bukan tidak bisa untuk marah. Aslinya, ku bisa juga meluapkan emosi. Tapi, terlihat tidak asli ya? Sudahlah.

Sedih. Hiks, hiks, hanya di depanmu ku mampu dan mau mencurahkan airmata sebanyak-banyaknya, mengalirkannya di pipi. Selebihnya, tidak. Aku sungguh sangat malu tentang hal ini. Tapi padamu, ku merasa sudah biasa adanya. Rasanya, kita memang sahabat hati. Padamu ku mudah saja berbagi tentang rasa ini. Sehingga, engkau pun memaklumi dan segera mencandaiku. Bahwa sedihku kurang, hayo, tambah lagi. Bibirnya kurang melengkung ke bawah, saat ku cemberut, dan beberapa detik kemudian menangis. Ayooo, tambah lagi, bisikmu seraya tertawa ringan.

Bahagia. Tentang bahagiaku, tidak dapat terucapkan lagi. Engkau pun sudah sangat tahu, kapan saja ku benar-benar bahagia. Apakah saat engkau menghadiahiku sesuatu, atau saat engkau datang menemuiku tepat waktu, ketika ku membutuhkanmu? Engkau sangat memahamiku dan engkau benar-benar bahagia bersama bahagiaku.

Takut. Aku sebenarnya penakut. Tapi, engkau tidak akan pernah percaya tentang hal ini. Engkau bilang, aku pura-pura, saat ku memintamu menemaniku saat rasa takutku kambuh. Uh. Aku sebal tentang ini.

Kalem. Tenang. Damai. Tidak banyak berulah, menerima dan menjalani keadaan dengan sebenarnya. Engkau sangat menyukaiku karena ini? Eits, tunggu dulu. Aku berambisi tinggi lho, tahukah engkau? Salah satu impian dan citaku adalah membersamai mentari di atas sana?

Sekarang saja, ingatanku segera berkelana pada tahun-tahun lalu, sekitar tahun dua ribuan. Saat itu, impianku sungguh sangat jauh. Aku bukan lagi berteman dengan manusia saja, tapi dengan mentari sungguh sangat akrabnya. Maka, tidak ada lagi alasanmu untuk bilang, aku orangnya tidak mau berubah. Aku berevolusi. Aku sudah jauh berubah saat ini, lho. Tapi satu yang sama, aku sungguh sangat senang, karena engkau adalah mentari yang ku idamkan, dulu. Engkau adalah mentari di hatiku. Maka, terimalah aku yang terlihat tenang adem dan ayem olehmu. Karena kehangatanmu telah melunturkan ambisiku. Sehingga ku terlihat begitu teduh dan sejuknya dalam pandanganmu. Terima kasih mentariku. I love you.[]

🙂 🙂 🙂

Hei, dear me!

Engkau Temanku, Engkau adalah Diriku

Wahai diriku. Engkau temanku. Aku kembali untuk menyapamu saat ini. Engkau yang tidak pernah sendiri di dunia ini. Engkau yang ada bersamaku, bukan hanya bersama, mereka, dia, dan dirinya di sana. Ingatkah engkau?

Wahai diriku. Engkau temanku. Diri yang [sudah agak] lama tidak ku sapa. Hu um. Sudah lama ku tidak menyapamu. Engkau yang membersamaiku selalu, tidak pernah meninggalkanku. Akan tetapi, aku terkadang tidak menyadari, keberadaanmu yang sangat berarti bagiku. Hiks.

Wahai diriku. Engkau temanku. Ini adalah suara khusus dariku untukmu. Suara yang hanya dapat engkau dengarkan, saat engkau benar-benar mau menyimaknya. Suara yang tidak datang sering-sering, karena banyaknya kesibukkanmu. Sehingga engkau, mengabaikan kehadiranku. Aku yang tidak terlihat olehmu, namun selalu ada untukmu. Aku yang, ya, beginilah adanya. Walau aku seperti ini, sungguh ku sangat menyayangimu. Aku mencintaimu.

Dear, me! My dear friend.

Aku mencintaimu sungguh-sungguh, sesungguh mentari yang terbit setiap hari, tidak berhenti. Sampai nanti tiba masa baktinya berakhir.

Aku mencintaimu dalam-dalam, sedalam hati yang tidak dapat terukur.

Aku mencintaimu benar-benar, sebenar kalam-Nya yang turun berangsur-angsur, bertahap, perlahan.

Aku mencintaimu sangat jeli, makanya tidak segera, tidak secepat yang engkau mau. Karena aku tidak ingin salah mencinta.

Aku mencintaimu dari waktu ke waktu dari sedikit menjadi banyak. Meski engkau tidak menyadari. Walau engkau tidak mengetahui. Bahkan saat engkau tidak menginginkan.

Aku mencintaimu selaksa warna di ruang hati, melebihi warna pelangi. Terkadang merah merona, hijau meriah, biru muda, putih bersih, merah muda, kuning mengering dan sebagainya. Hahaa. Meriah. Sungguh indahnya mencintaimu.

Aku mencintaimu selangkah demi selangkah, pelan-pelan. Nah, berhentilah sejenak dari langkah-langkah gegasmu. Berhentilah untuk memanfaatkan sedetik dua detik waktumu, untuk memandangku, menatap mataku dan memperhatikan senyuman manisku yang ku bagikan khusus untukmu. Senyuman tanda sayang, tanda bahwa kita adalah dua sejoli yang tidak ada bandingannya.

Aku mencintaimu tiada bandingan, maka berhentilah membandingkan dirimu dengan yang lainnya. Berhentilah dari pikiran-pikiran asing yang tidak patut engkau pikirkan. Berhentilah dari hanya menjulangkan mimpi setinggi-tingginya, tanpa menyadari kenyataan. Namun jalanilah kenyataan yang ada dengan sebaik-baiknya seraya tetap menatap mimpi terbaikmu sebagai pelecut semangat untuk bangkit, saat engkau terpuruk. Pandanglah mimpimu sesekali saja, lalu kembalilah menapak bumi dengan anggun.

Aku mencintaimu sebaik-baiknya, maka baikilah dirimu dan juga aku. Supaya kebaikan menyertaimu selalu. Ku berdoa, semoga hari inimu dan selanjutnya, menjadi lebih baik dari hari kemarin. Ku berdoa, semoga kita selalu dalam bahagia, bersama siapapun dan di mana pun kita berada. Aamiin.

Aku mencintaimu, seluas lengkung langit di atas sana. Mencintaimu tanpa batas, tanpa tepi, tidak terukur. Mencintaimu tanpa harus ada yang tahu dan ku tidak perlu juga memberitahu.

Aku mencintaimu, dengan seluruh kemampuanku. Walau sempat sedih karenanya, setidaknya aku berusaha. Hingga akhirnya, kebahagiaan menerpa-nerpa hatiku setelahnya. Aku benar-benar bahagia, dengan cinta ini. Terima kasih, untuk tetap menjadi temanku, menemaniku, saat yang lain tidak.

I love you.

Dariku.

Sekali lagi, aku mencintaimu tak berhingga, tanpa batas. Maka, tersenyumlah, tetap begitu. Tersenyumlah untuk menjemput bahagia. Berbahagia dan tersenyumlah.[]

🙂 🙂 🙂

Sejatinya Hidup

Hidup ini, sejatinya adalah pertukaran waktu.

Ya dari pagi menuju siang, hingga sore sampai malam. Selanjutnya dini hari, kembali lagi ke pagi. Demikian berlangsung selalu dan seterusnya sampai nanti. Hingga akhirnya kelak, tiba masanya, waktu pun berhenti. Apakah berhenti hanya untuk diri kita sendiri, atau berhenti untuk semuanya dan selamanya. Tentang semua itu, hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Sedangkan kita, aku, tidak dapat memprediksi. apakah esok, lusa dan hari-hari ke depan masih dapat menjalani waktu?

Photo by Digital Buggu on Pexels.com

Hari ini, aku masih hidup. Makanya, ku masih berada di sini, saat ini, untuk menemuimu, kawan.

Ya, aku berkunjung lagi ke sini, sebab ku ingin menitipkan sedikit ingatanku tentang hidup ini. Hidup yang tidak berlangsung selamanya, namun sementara.

Ya, hidup di dunia ini, sementara. Lalu, apakah yang ku lakukan selama hidupku?

Detik ini, saat ini adalah kesempatan bagiku. Kesempatan yang ku ingin lebih berarti.

Ya, aku ingin, kesempatan hidup saat ini tidak tersia dan terbuang begitu saja, tanpa makna. Aku ingin, waktu sedetik saat ini, menjadikanku seorang yang dapat memanfaatkannya dengan baik. Bersama waktu, aku ingin hidupku menjadi lebih baik.

🙂 🙂 🙂