Wahai Jiwa yang Bangkit

Jiwa yang bangkit, pernah alami sulit dan sakit. Namun ia tidak bertahan dalam keadaan serupa. Ia bangkit dan melangkah, untuk keluar dari keadaan tersebut.

Wahai engkau, jiwa yang bangkit. Jiwa yang pernah merasakan sempit. Jiwa yang pernah mengalami risau. Jiwa yang terus menghalau segala galau. Jiwa yang juga alami pahit, rumit dan peliknya masalah. Jiwa yang tidak betah dengan kondisi sama.

Jiwa yang terus berjuang dengan segala daya. Jiwa yang segera kembali dan bangkit sebelum sakit, sebelum mati.

Tersenyumlah, sebab engkau memiliki kesempatan untuk bangkit. Sebab waktumu masih ada, walau sedikit.

Senyuman dari hati, maka sampai ke hati. Senyuman yang engkau beri untuk kami, kami jaga sampai nanti. Hingga akhir usia kami ingin menjaga senyumanmu tetap sumringah. Senyuman sebagai tanda persahabatan dari kami, untukmu. Wahai jiwa yang bangkit.

Wahai jiwa yang bangkit. Engkau percaya, bahwa dirimu berada di alam yang luas, maka engkau bangkit untuk melangkah di atasnya. Supaya engkau dapat membaca lebih banyak lagi. Agar engkau dapat berjalan lebih jauh lagi. Dengan demikian, engkau berjumpa dengan warna-warni hidup yang lebih rumit lagi.

Wahai jiwa yang bangkit. Engkau tidak sendiri, kini. Sebab engkau memiliki sahabat dan teman yang juga mengalami kebangkitan, sepertimu. Bersama mereka, engkau dapat saling bertukar pengetahuan. Di lingkungan mereka, engkau dapat bergabung. Di mana-mana, engkau akan bertemu lebih banyak sahabat lagi. Maka, tersenyumlah lebih indah.

Wahai jiwa yang bangkit. Saat ini adalah waktu terbaikmu untuk tersenyum lebih baik, dengan penuh kelegaan. Sebab engkau belum terlambat melakukannya.

Tersenyumlah, meski dari bilik-bilik yang penuh oleh airmata. Tersenyumlah, sebab tidak ada yang tahu, betapa engkau bahagia menjalaninya. Tersenyumlah, walau ragamu terluka, parah.

🙂 🙂 🙂

Iklan