Memburu Senyum Sang Mentari

Terlambat sedikit saja, hilanglah kesempatan emas, mendapatkan senyum indahmu. Fyi, untuk mendapatkan potret ini, tidak mudah teman. Namun harus berjuang dan tabah meski tidak harus berlelah-lelah. Yah, demi menyaksikan betapa syahdunya pemandangan mentari yang berangsur tenggelam dari balik kabut asap. Meski berkabut, rona jingganya sangat kentara. Pertanda bahwa, mentari tetap tersenyum, meski dari balik kabut. Ia memancarkan energi dan menginspirasi supaya kita pun begitu. Kita tidak boleh kalah oleh mentari, yah. Mentari adalah ciptaan Allah, kita juga.

Mentari, sekali menatapmu ku menemukan harapan hidup. Menatapmu sekali lagi, ku berdiri. Menatapmu berkali-kali, artinya ku sedang menyemaikan harapan tersebut pada ruang hari ini. Seraya bergerak, aku terus menatapmu berulang kali. Meski setiap kali ku menatapmu membuat mataku silau, aku tidak peduli. Sebab bagiku engkau adalah inspirasi.

Mentari adalah inspirasiku untuk mengembangkan senyuman lagi, meski bagaimana pun suasana di dalam sini, ruang hatiku yang terkadang kelabu, tanpa tersinari oleh cahaya-Mu.

Yup! Betul, mentari, sinarmu adalah alasanku tersenyum lagi. Memperhatimu adalah alasanku bangkit dan berdiri, lalu menjejakkan kaki-kaki ini di bumi. Seraya mengenal diri, ku terus memantau perjalananmu di sana. Ke mana engkau hendak pergi?

Aku terus menatapmu, mengantarkan kepergianmu ke sana. Kepergian untuk kembali lagi esok hari berbeda, di sisi langit Timur. Kepergian yang mengingatkanku selalu, bahwa engkau datang dan pergi sesuai dengan waktunya.

Kepergianmu tidak lama-lama, namun berkala. Wah, betapa indahnya perjalananmu di sana, pikirku. Perjalanan saat aku tidak dapat mengikutimu. Perjalanan yang engkau tempuh, masih berlangsung, dan pada saat sama aku sedang ‘terlelap dalam tidurku’. Perjalanan yang terus engkau lakukan dan selalu begitu.

Ya, aku suka dan kagum padamu. Saat pagi menyapa, engkau terbit membawa senyuman terbaikmu. Senyuman yang engkau bagikan, mirip dengan hari-hari sebelumnya. Senyuman yang tertata dan engkau jaga selalu ada. Senyuman yang membuat penghuni bumi pun tersenyum, bersamamu. Sebab senyumanmu menginspirasi sesiapa saja untuk tersenyum. Lalu bagaimana halnya dengan ku?

Aku tersenyum kali ini terinspirasi olehmu, setelah melihat senyumanmu yang mengembang indah. Senyuman tanpa wajah, namun terus menebar megah.

Engkau tersenyum makanya siang ini terang. Engkau bersinar, makanya hari ini cerah.

Aku tersenyum, maka hariku cerah. Aku tersenyum, maka hatiku ceria. Tanpa-Nya, ku tidak dapat merangkai senyuman kali ini. Ini adalah ungkapan terima kasih dan syukurku kepada-Mu ya Allah… Thank you so much. Alhamdulillah.

🙂 🙂 🙂

Iklan