For Our Closeness

Semangat
Setiap waktu dan kesempatan sama tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Maka, manfaatkan waktu yang ada untuk hal berguna dan bermakna saja. Ya.

Haup! Hampir lupa. Aku baru saja hampir lupa, password untuk terhubung ke sini. Alhamdulillah, sudah ingat lagi. Makanya, kita kembali bersua, teman. Bertemu, walau tidak berjabat tangan. Bertukar suara, walau dalam diam. Bertbagi tentang apa saja, meski terlihat kasat mata. Akan tetapi, semoga, semua yang kita lakukan, adalah dalam rangka melakukan hal bermakna, ya.

Ya. Mengingat tentang makna, aku terkenang pada alasan awal merangkai kata, untuk apa? Setelah menelusuri lebih jauh, hingga ke kata pertama yang ku coretkan pada dunia maya, dulu, ku tersenyum lega.

Dulu, pertama merangkai kata, sebuah judul yang ku publish adalah “Pencerahan”. Aih, demi memperoleh secuplik pencerahan, aku pun kembali lagi dan lagi, ke dunia maya. Meski dalam berbagai suasana apapun, aku tidak lupa mampir di sini. Apakah dalam sehari dua kali, tiga kali, bahkan berkali-kali, kalau ku terkoneksi dengan internet. Sampai ada di antara salah seorang teman yang membaca blog pertamaku bilang bahwa aku “Si Raja Online.”

What? Haghaghag. Lantas, aku pun terpikir-pikir. Online-ku demi apa? Sebenarnya, aku ngapain aja sih di sini?

Seraya memikir ulang tujuanku mengarungi dunia maya, ku terus merangkai kata. Apakah dalam suasana lengkap seluruh raga dan jiwa, atau separuh nyawa adanya. Apakah aku dalam kondisi baik-baik saja, atau sedang bersimbah dengan airmata. Apakah aku sehat, atau sakit, dunia maya senantiasa ku jadikan sebagai pelepas lelah. Apakah aku sedang bersemangat menempuh hidup, atau lesu tanpa tenaga, ku menyapanya juga. Ah! Ternyata, semua terus berlangsung hingga detik ini. Ya, detik ini. Detik yang mempertemukan kita lagi.

Aku suka, menyenangi, menggemari kehadiranku seperti ini. Walau tidak ada yang menemani, ku pikir aku sendiri. Walaupun akan ada yang melirik-lirik untuk menanyai kabar diri, ku pikir bisa jadi. Sekali pun ada yang memetik makna dari apa yang ku rangkai, ku syukuri. Nah, bila ku hadir hanya untuk curhat-curhat saja, untuk meliukkan jemari, mencurahkan segenap uneg-uneg, tanpa ada yang menghendaki, tetap ku lazimi. Sebab, bagiku, di sini adalah sarana berekspresi.

Yap! Ini yang ku pelajari dan pahami sejauh ini. Setelah sekian tahun menarikan jemari tidak berhenti. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga bertahun-tahun lamanya, aku masih saja betah.

Kini, aku kembali, lagi. Kembali, berjumpa denganmu teman, setelah sempat hampir lupa sebuah kata kunci. Kata kunci yang sempat ku cari-cari dari ruang memori yang ku daur ulang dari hari ke hari. Kata kunci yang tidak ku tulis sama sekali, di mana-mana, kecuali mengingatnya saja.

Alhamdulillah, masih ingat. Memoriku masih kuat, ternyata. Maka, ku mensenyumi dan bersyukur, lalu menarikan jemari, untuk berbagi tentang rerangkai kata hari ini.

Jadi, intinya, kali ini ku berbagi tentang apa? Aku hanya mau menepikan sebuah qoute cantik yang ku selami maknanya, pada sebuah aplikasi, baru-baru ini.

”STAY CLOSE TO ANYTHING THAT MAKES YOU GLAD YOU ARE ALIVE.” Begini bunyinya. Kalimat yang ingin ku ingat lagi, nanti. Sebab ingatanku tidak selalu lekat padanya, kalau tidak ku tuliskan. Seperti kata kunci untuk sampai di sini. Jadi, ku hanya mau menitipkannya, supaya tidak lupa, agar ingat, untuk dekat dengan apapun yang membuatku senang dan benar-benar hidup. Karena terkadang, kita merasakan keadaan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Maksudnya, kita dalam kondisi bernafas, hidup, bernyawa, akan tetapi seperti mati suri, tidak hidup, bak zombi. Hihiiiii. Yaa, terkadang aku sendiri merasakan dan mengalami seperti ini. Dalam keadaan melakukan sesuatu, tapi tidak dengan hati. Aku makan, berjalan, berlari, bicara, dan bersikap, tanpa hati, jadinya yaaa, seperti itu. Karena apa? Sebab aku tidak memaknai, tidak dekat dengannya, antara kami, aku dan aktivitas yang ku lakukan, ada jarak, karena tanpa jiwa.

Nah, berbeda halnya, saat ku benar-benar fokus, serius, melakukannya dengan sepenuh jiwa, lekat, dekat, dengan apapun yang ku temui dan ku lakukan. Maka, yang ada, ku benar-benar merasakan sesuatu yang tidak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya, yaaa, senang, bahagia, tenang, dan aku benar-benar hidup di dalamnya. Luar biasa.

Kiranya, cukup sekian dulu teman, semoga lain waktu ada kesempatan lagi yaa, ku berbagi tentang sesuatu yang bisa ku selipkan di sini. Semoga bermakna, dan mendekatkan kita, ya. Meski engkau di sana dan aku di sini. Tapi engkau dapat merasakan yang ku alami. Sama halnya saat ku merangkai kata, saat ini. Bukan agar engkau memasuki duniaku dan terbawa situasi, tapi supaya apa yang ku tulis, hidup dan bernyawa, ada ruhnya.

This is my hope, when i am write something. Inilah yang ku maksud dengan pencerahan. Apakah aku yang tercerahkan setelah menulisnya dari dalam hati, atau engkau yang tercerahkan setelah membacanya sepenuh hati.[]

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai